The Recipe Book [1]

2db0031f762cbbfee722a68d1d7476ff

THE RECIPE BOOK [CHAPTER 1]

by zaky

School Life | Friendship | Drama


Ketika kau terlalu mencintai rumahmu dan memutuskan langsung pulang segera setelah bel pelajaran berakhir berdering, bukan hal aneh jika kau satu-satunya yang tidak tahu soal rumor terpanas yang sedang beredar di sekolah. Setidaknya aku mengalami itu setiap kali berita pacaran si anu dan anu merebak, tapi itu tidak pernah menggangguku—maksudku, yang pacaran bukan aku, dan aku tidak pernah berkaitan dengan itu semua, jadi apa lagi yang kuharapkan? Lagi pula, aku tidak mengenal banyak orang di sekolah baruku.

Tapi kemudian ada satu rumor yang mencungkil namaku ke permukaan, dan aku tahu sudah saatnya berhenti bersikap abai. Pasalnya, rumor ini cukup serius, tidak lagi disebarkan segerombol anak yang sedang nongkrong di mall dan menemukan pasangan baru bergandengan tangan. Tidak, bukan tipe rumor yang cerah-ceria semacam itu.

Ini menyangkut aku dan buku resep sialan.

Untuk memahaminya, mungkin kita harus kembali ke hari Jumat yang lalu, ketika aku seperti biasa segera cabut dari gedung tiga lantai yang selalu berbau seperti keringat dan seseorang entah bagaimana, entah kenapa, entah siapa, membuka lokerku di koridor depan kelas. Barang-barang pribadiku yang sekadar dijejalkan di dalamnya segera longsor ke lantai, kertas-kertas beterbangan, alat menggambar berjumpalitan, dan buku resep meluncur anggun tepat di puncak tumpukan kacau itu. Buku resep yang diam-diam diedarkan seperti narkoba di antara murid-murid yang mencandu nilai sempurna.

Masih banyak orang yang lalu-lalang di koridor sore itu, beberapa teman sekelasku bahkan masih main dorong-dorongan versi ekstrem di pagar balkon yang bisa langsung menjerumuskan mereka ke lapangan belasan meter di bawah sana. Ada ketua kelas yang baru saja keluar dari ruangan, ada teman sebangkuku yang berpapasan dengannya sambil menyeruput jus, ada kamera pengawas yang bertengger di pojok koridor. Mereka semua menyaksikan kejadian itu, dan mereka semua (minus kamera pengawas) seketika terkesiap.

Lucunya, aku sebagai pemilik loker tidak melihatnya. Mungkin sedang mendengarkan musik sambil mengangin-anginkan wajah.

Lebih lucu lagi, mereka berpikir akulah yang membuka loker dan yang menjejalkan barang-barang kembali ke dalamnya, yang kemudian berjalan cepat meninggalkan koridor dengan kepala tertunduk.

Begini, aku tahu aku tidak terkenal. Eksistensiku di sekolah ini hampir sama dengan gulma yang mencuat dari celah dinding pagar: disadari, tapi tidak menonjol sehingga tidak dipedulikan. Aku tahu rambut hitam berpotongan bob ini bisa ditemukan di mana-mana, sama halnya dengan postur kerempeng dan punggung separuh melengkung ke depan ini, tapi tidak bisakah mereka melakukan pengecekan ganda bahwa orang yang membuka lokerku bukan aku? Bahkan nenekku yang salah satu matanya katarak bisa segera tahu kalau gadis tinggi semampai itu bukan aku. Terlalu cantik meski wajahnya tidak kelihatan di antara titik-titik yang memenuhi layar.

Harusnya aku mengatakan semua itu di depan wali kelas, guru kepala bagian kesiswaan, dan pembimbing konseling yang membentuk setengah lingkaran di sekitarku, kami semua menghadap ke monitor komputer di ruang bimbingan konseling. Tapi bibirku lengket satu sama lain, lidahku kering. Aku hanya menunduk, meremas-remas jari tanganku sendiri, dahi serta kulit kepalaku memanas oleh ketiga pasang mata yang memelototiku.

“Jadi, Nona Byrne, kau bilang gadis itu bukan kau?” geram Tuan Ford, kepala kesiswaan, pria menakutkan dengan alis tebal sebagai satu-satunya rambut di kepalanya. Aku mengangguk kecil. Wali kelasku menghela napas berat.

“Bagaimana bisa ini bukan kau?” sambung Nyonya Ogston lirih, nadanya sangat kecewa sampai terdengar sendu. Kayak dia bisa mengenaliku saja. Aku pernah mencoba bersikap santun dengan menyapanya ketika kami kebetulan berpapasan di pasar swalayan, dan dia tersenyum sambil mengangguk, tapi keningnya mengernyit: siapa kau?

Tetap saja aku tidak buka mulut.

“Nona Byrne, berbohong hanya akan memperberat hukumanmu,” imbuh Nyonya Peterson. Sejak tadi dia bergonta-ganti melirik barang bukti yang dipapar di mejanya dan monitor komputer, seakan khawatir sidik jarinya ikut menempel di suatu tempat di salah satu benda itu. “Kalau kau mengakuinya sekarang, kami bisa mempertimbangkan untuk meringankan hukuman.”

Hukuman, berat maupun ringan, sama-sama terdengar tidak menyenangkan.

Satu-satunya yang menjawab adalah pergerakan jarum jam dinding di atas monitor komputer, serta lamat-lamat keriuhan ceria di luar sana. Aku masih memainkan jari-jemari, tidak menatap satu pun dari mereka.

“Ini menjengkelkan,” gerutu Tuan Ford, ada bunyi gemeretak leher saat dia mengatakannya. Mendadak aku bertanya-tanya apakah aku bisa mengalihkan topik dengan berkata bahwa Tuan Ford lebih terlihat seperti algojo daripada guru. “Aku ada rapat setelah ini dengan para wali murid sebentar lagi—Byrne, perbuatanmu telah membuat orang tua teman-temanmu geram.”

Satu-satunya perbuatanku yang menjengkelkan adalah pulang cepat, tapi salah sendiri anak-anak lain lebih suka nongkrong di Starbuck atau berkeliaran di mall.

“Itu benar.” Nyonya Ogston tertawa kering, tubuhnya yang kerempeng dan jangkung beringsut sedikit seperti ranting tertiup angin. “Sejak kabar ini merebak, para orang tua juga tidak henti-henti meneleponku, mempertanyakan keadilan sekolah. Maksudku, Byrne memang punya nilai tinggi dan sebagainya.”

Bergosiplah di pantry, jangan di sini. Minumlah banyak kopi agar mata kalian lebih awas.

“Kupikir kita semua setuju ini harus menunggu karena Byrne memutuskan diam,” kata Tuan Ford lagi sambil menegakkan badan; pinggiran meja tempatnya bersandar sejak tadi berkeriut lega. “Kita akan bahas ini lagi besok, Kandi Byrne, kuharap kau bisa diajak kerjasama ketika itu.”

“Kau adalah murid favoritku, Kandi,” lagi-lagi Nyonya Ogston mengekor. Mungkin dia memanggilku dengan nama pertama karena baru mengingatnya sekarang. Wanita itu meremas pundakku dengan jemarinya yang mirip cakar burung. “Tolong jangan buat gurumu kecewa. Mengaku sajalah, gunakan malam ini untuk memikirkannya, oke?”

Mereka berdua keluar, pintu berdecit nyaring dan berdebam saat menutup kembali. Masih ada Nyonya Peterson, tapi ini ruangannya, jadi mungkin aku yang harus segera pergi. Bagaimanapun, di saat aku sedang menyusun kalimat untuk pamit, wanita itu memegang pundakku di tempat yang sama seperti Nyonya Ogston. Pegangan yang kuat dan mengindikasikan agar aku mendongak, jadi aku melakukannya.

Nyonya Peterson memiliki wajah lonjong dan panjang dan tua, tipikal bibi buyut perfeksionis yang memakai bedak harum serta kerah berenda. Kalau melihatnya, kau bakal menebaknya bekerja sebagai guru matematika atau sejarah, atau bahkan pegawai pengarsipan yang galak, tapi yang jelas bukan pembimbing konseling.

“Kandi Byrne, seperti kata wali kelasmu, gunakan malam ini untuk berpikir.” Suaranya rendah, separuh menggumam. “Tapi ingat ini: semakin kau menunda mengakui perbuatanmu, semakin banyak hukumanmu. Kau jelas tidak ingin membuat ibumu dipanggil dan mengetahui ini semua, bukan?”

Pertanyaannya sengaja digantung, dimaksudkan agar aku meresapinya dalam-dalam. Tapi yang kupikirkan setelah tangannya terlepas dari pundak adalah kenapa ada orang yang sangat usil mencoba menjadi diriku dan memojokkanku dalam situasi semacam ini.

.

Harus kuakui aku agak asosial. Introver, benar, tapi aku juga teramat canggung berinteraksi. Karena itu, aku tidak bisa serta-merta meminta dukungan mental kepada Aiden saat bertemu dengannya di dalam kelas, di antara semua anak yang melirikku penuh penilaian. Aku ingin memberitahu mereka bahwa awan kebencian sudah bergelayut dengan teramat jelas di atasku, tidak perlu repot-repot mencari cara menyindir dengan subtil.

Aiden adalah satu-satunya teman sungguhan yang kumiliki. Sebagian besar kelas kami sama, jadi pada awalnya mau tidak mau aku menempel ke sisinya seperti anak itik mengikuti induknya. Tapi akhir-akhir ini kelengketan kami lebih mutual, seperti bayi monyet yang dilindungi oleh ibunya.

“Apa yang mereka lakukan padamu?”

Aku mengembuskan napas keras mengingat bagaimana namaku diumumkan lewat pengeras suara di tengah-tengah pelajaran untuk segera ke ruang bimbingan konseling. “Tidak ada. Belum. Mungkin besok.”

Aiden hampir sama sepertiku, gulma di dinding pagar, tapi lebih mendingan karena dia atlet panahan yang dibanggakan sekolah. Para gadis seketika menjadi makhluk paling bijaksana yang mementingkan bakat ketimbang penampang luar jika sudah membicarakan dirinya—Aiden punya wajah biasa saja dengan rambut cokelat biasa. Selama aku berada di sini, bagaimanapun, aku tidak pernah melihat dia beraksi.

“Siapa pula yang menyebarkan berita itu.” Dia mengangguk kecil ke arah layar ponsel. Aku beringsut mendekat dan mendapati halaman forum sekolah telah dipenuhi komentar-komentar anonim mengenai berita terkini—tentang aku. Ada potongan gambar yang diambil dari rekaman kamera pengawas, di mana seorang gadis tinggi semampai yang terlalu cantik untuk menjadi diriku sedang menunduk, rambut depannya menutupi sebagian wajah.

“Kau berada di sana ketika itu,” aku balas bergumam.

“Ya, tapi aku sudah bilang pada semua orang kalau itu bukan kau,” tukas Aiden dan menelungkupkan ponsel dengan keras ke meja, seolah itu bisa membendung arus komentar yang berdatangan dari setiap gawai yang dimiliki warga sekolah ini. Dia berganti melipat kedua lengan di depan dada, wajahnya memberengut. “Aku duduk di sebelahmu selama hampir satu tahun dan sepintas pandang pun tahu kalau itu bukan kau. Tetap saja tidak ada yang percaya. Mereka bilang aku terlalu protektif.”

Ada tusukan rasa bersalah yang membuatku tidak nyaman. “Maaf.”

“Kau tidak salah.” Aiden menggaruk-garuk hidungnya yang panjang, lalu kembali melipat lengan. Sekarang dia terlihat seperti bayi raksasa yang merajuk. “Tapi aku tidak mengerti kenapa kau diam saja melihat seseorang berusaha memfitnah dan semua orang mempercayai itu.”

Aku melipat bibir ke dalam, tidak tahu bagaimana harus menanggapi. Kupikir Aiden menyadari aku sedang berusaha merangkak ke cangkangku karena dia buru-buru melambaikan tangan di depan wajah.

“Tidak, aku tahu ini sangat berat untukmu. Tidak heran kalau kau masih syok dan uhm…” Aiden menyambar ponselnya lagi, dengan tergesa menggulung layar ke bawah. “Hei, jangan lupa kerjakan bagianmu. Tugas biologi, kau ingat? Tenggat waktunya akhir minggu ini.”

Aku tersenyum kecil. “Itu benar, aku akan—”

“Tidak perlu khawatirkan Kandi, dia kan sudah pegang kuncinya,” tiba-tiba seseorang menceletuk dari belakang kami.

Aiden serta-merta memutar tubuh atas dan menyambar kerah pemuda itu, yang namanya tidak kuketahui, hingga yang bersangkutan terhuyung ke depan, tumpuan tangannya di meja menggelincir. Suasana dalam kelas seketika membeku, semua mata tertuju pada mereka.

“Tutup mulutmu,” desis Aiden rendah. Alis tebalnya bertautan intimidatif. “Atau aku yang akan menutup mulutmu dengan paksa.”

Aiden membuatku terkagum. Aku bahkan masih memikirkan sejak kapan pemuda itu dengan sabar mendengarkan obrolan kami sampai menemukan momen untuk menyindir. Si pemuda mengangguk cepat. Aiden mengempaskannya ke belakang, membuatnya menubruk kursi dan terduduk di sana.

“Kita pergi saja dari sini,” kata Aiden sambil menyambar pergelangan tanganku, dengan tangannya yang lain melonggarkan ikatan dasi di lehernya. “Orang-orang tolol ini membuatku muak.”

Beberapa jiwa tersentil oleh omelan Aiden. Ketika aku beranjak berdiri dengan lambat, seorang gadis maju selangkah dari lingkaran cewek-populernya. (Sepertinya dia populer, wajahnya terlihat populer.)

“Kau sedikit terlalu sensitif, bukan begitu, Aiden? Apakah ada hal yang disembunyikan di antara kalian?” Gadis itu memiringkan kepala, membuat ikal-ikal rambutnya yang sewarna karamel berjatuhan. “Jangan bilang kau juga bekerja sama dengan Kandi untuk mendapatkan buku resep?”

Para penonton terkesiap. Aiden memutar bola mata. “Tidak perlu hal semacam itu. Kami duluan.”

“Atau,” suara keras gadis itu menghentikan langkah kami untuk kedua kalinya, “jangan-jangan kalian punya hubungan spesial …?”

Kini semua orang kelabakan seolah itu hal yang sangat penting. Aku bisa merasakan kuku Aiden menancap di kulit pergelangan tanganku dengan lebih kuat. Dia menggertakkan rahang, lantas menggeretku meninggalkan kelas menuju koridor yang sejuk. Sekarang jam pelajaran terakhir, tapi sepertinya hanya sedikit kelas yang bisa melakukan pembelajaran dengan efektif. Aiden hanya melepaskan pegangan tangannya setelah kami tiba di tikungan koridor.

“Maafkan aku.”

“Apakah kosakatamu hanya ‘maaf’?” sentak Aiden, lalu dia mengernyit. “Sori, aku tidak bermaksud memarahimu. Aku frustrasi dengan semua orang. Mereka bodoh sekali!”

Aku memainkan jari-jemari lagi. “Bisakah ini reda dengan sendirinya?”

Aiden melontarkan kedua tangan ke birai. “Setelah para guru menyeretmu ke ruang bimbingan konseling? Aku tidak berpikir begitu. Karena bagaimanapun, yang berada di lokermu itu benda penting yang terlarang—astaga, ini membuatku gila.”

Aku ingin bilang terima kasih, tapi itu akan membuatku terkesan senang jika Aiden menjadi gila. Tapi sungguh, perhatiannya padaku menyentuhku. Seharusnya dia tidak bergerak sejauh ini.

“Jika aku bilang kalau itu memang aku …”

“Berarti kau sama-sama tolol,” sambar Aiden cepat. Dia separuh memutar badan menghadapku, menatapku dengan sorot mata yang entah bagaimana terlihat jijik. “Aku tahu kau akan bilang begitu cepat atau lambat, Kandi. Tapi kau tidak bisa menyenangkan mereka kalau itu membuatmu merugi.”

Apa lagi yang bisa kulakukan, kalau begitu? Hari ini aku memang sanggup tidak mengiakan semua tuduhan yang diberikan para guru maupun murid, tapi bagaimana dengan besok? Mengikuti permainan orang-orang adalah cara tercepat untuk tersingkirkan, dan tersingkirkan berarti tidak perlu lagi berlama-lama mengotori tangan dengan urusan mereka.

“Dengar, kita akan menemukan jalan keluarnya,” kata Aiden sambil membingkai kedua pundakku. Tangannya besar, tapi membuatku nyaman. “Jangan pernah memberi mereka kesempatan menjatuhkanmu, oke? Kita harus menyusun strategi.”

“Untuk apa?” aku bertanya. Siapa yang bilang aku pintar? Ah, Nyonya Ogston. Sudah kuduga dia tidak mengenalku.

“Untuk membebaskanmu dari semua tuduhan, tentu saja! Kita harus tahu siapa yang melakukan itu di lokermu dan kenapa.”

“Itu masuk akal.”

Aiden mengacak-acak rambutku dengan puas. “Pertama-tama, mari kita ambil tas dari kelas.”

Walaupun membolos bukan perbuatan terpuji, aku tidak menolak rencana Aiden—toh aku juga butuh udara segar yang bebas prasangka buruk. Kami menyusuri koridor menuju kelas dan berpapasan dengan ketua kelas.

“Hai, kalian berdua,” sapanya kasual, kacamatanya berkilat-kilat seolah hendak ikut memberi salam. Aiden mengangguk, menaikkan satu tangan ke pundakku.

“Kami mau bolos.”

“Aku tidak mencegah kalian.”

Aku menoleh melewati lengan Aiden yang merangkulku, memperhatikan ketua kelas menyeringai ke arah kami sementara kami berbelok ke ambang pintu kelas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s